Penyakit Hati
Penyakit ini disebabkan oleh keragu-raguan atau hawa nafsu, bukan penyakit fisik. Karena itu, tidak ada seorang dokter ahli bedah jantung pun yang bisa menghilangkan penyakit ini dengan peralatan bedahnya.
Jika seseorang terkena penyakit ini, ia akan kehilangan arah, merugi, lalu menyesal. Penyakit hati adalah pintu segala kerusakan, jalan menuju berbagai macam dosa, penyebab utama pemendekan umur, dan perusakan rumah tangga.
Saya mempunyai seorang sahabat yang berusia tiga puluh dua tahun, ia terkena penyakit kanker otak. Meskipun telah berobat ke luar negeri, akan tetapi Allah Ta'ala belum menakdirkan kesembuhan untuknya.
Kemudian ia dimasukkan ke Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh, pada bulan-bulan terakhir dari kehidupannya. Ia tidak sadarkan diri, seluruh wajahnya membengkak, khususnya daerah hidung dan kedua matanya, sehingga orang-orang yang menjenguknya merasa jijik dan tidak tega untuk memandangnya.
Untuk mengantisipasi jika ia meninggal saat malam hari, maka saya meminta kepada rekan-rekan di rumah sakit untuk menghubungi keluarganya. Dan kebetulan yang mengangkat telepon adalah ibunya, maka sang ibu merasa kaget. Saya juga minta kepada pihak rumah sakit untuk menghubungi saya, jika sahabat saya itu sedang menghadapi sakaratul maut.
Tepatnya jam enam pagi pihak rumah sakit menghubungi saya untuk menyampaikan kabar bahwa sahabat saya sedang menghadapi sakaratul maut, maka saya segera pergi ke rumah sakit. Setibanya di sana, saya bertanya kepada salah seorang perawat mengenai detak jantungnya, "Tigapuluh perdetik dan tekanan maksimal tiga puluh lima," jawab perawat itu.
Saya segera memasuki ruang rawatnya dengan penuh takjub. Bagaimana tidak, wajah yang menakutkan, hidung yang membesar dan mata yang menonjol keluar itu telah kembali normal. Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
Saya mendekatinya dan memutar tempat tidurnya ke arah kiblat, kemudian saya sapa dia, "Muhammad!" Ia menyahut, "Ya." Ia berkata, "Khalid!" Saya menjawab, "Ya, bagaimana keadaanmu?" Ia menyahut, "Alhamdulillah, aku dalam keadaan baik."
Saya katakan kepadanya, "Ucapkanlah Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah." Ia mengucapkannya lalu pergi menghadap Tuhannya—semoga Allah merahmatinya.
Saya memohon kepada Allah Ta'ala semoga dengan peremukan saya, sahabat saya dan anda semua di dalam naungan surga Firdaus.
Saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, amal perbuatan apa yang telah ia lakukan, sehingga ia berhak untuk mendapatkan anugerah husnul khatimah ini?
Karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah menyampaikan,
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ"Barang siapa yang ucapan terakhirnya sewaktu di dunia kalimat 'Laa ilaha illallah'—Tiada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga."
Saya menjadi heran, sebab sepengetahuan saya ia bukanlah tipe orang yang banyak beribadah, walaupun ia selalu menjaga shalat lima waktu dan selalu berhati-hati menjauhi larangan Allah Ta'ala.
Saya yakin, pasti ia mempunyai satu amal ibadah yang istimewa hingga ia mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan husnul khatimah dan mengucapkan dua kalimat syahadat di penghujung hayatnya.
Saya bertanya kepada ayahnya, sang ayah menjelaskan, "Putraku itu sangatlah aneh, aku belum pernah menemui orang yang hatinya lebih mulia darinya, ia tidak pernah tertarik dengan harta milik orang lain, ia tidak mengenal sifat dengki maupun iri, ia selalu membawa cinta kasih sayang kepada siapapun, mungkin semua itu cukup untuk mengantarkannya ke derajat husnul khatimah."
Dan Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu ia berkata, "Saat ini kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda, 'Akan datang seorang penghuni surga dari arah ini kepada kalian.' Maka datanglah seorang sahabat Anshar dengan jenggot yang basah karena berwudhu, sambil membawa sandalnya dengan tangan kiri, ia mengucapkan salam.
Keesokan harinya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyampaikan hal yang sama dan ternyata orang yang datang sama pula. Pada hari ketiga beliau menyampaikan berita yang sama dan muncullah orang yang sama.
Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam beranjak pergi, Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'Anhu mendekati orang Anshar tersebut sambil berkata, 'Aku bertengkar dengan ayahku, dan bersumpah tidak akan memasuki rumahnya selama tiga hari, jika engkau tidak keberatan bolehkah aku tinggal di rumahmu selama tiga hari?' Orang itu menjawab, 'Silahkan saja, tidak apa-apa.'"
Anas berkata, "Kemudian Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'Anhu tinggal di rumah orang tersebut selama tiga hari, akan tetapi ia tidak pernah menemuinya bangun malam untuk menunaikan shalat malam, kecuali bahwa jika ia terbangun atau membalik badannya di tempat tidur ia menyebut Asma Allah dan bertakbir, begitulah seterusnya hingga datang waktu shalat subuh. Akan tetapi orang itu tidak pernah berucap kecuali perkataan yang baik."
Abdullah bin Amr berkata, "Setelah berlalu tiga hari, aku merasa bahwa amal ibadahnya biasa-biasa saja, kala itu aku berbicara kepadanya, 'Wahai Abdullah, sesungguhnya aku tidak pernah bertengkar dengan ayahku, akan tetapi aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Akan datang seorang penghuni surga kepada kalian..." Sebanyak tiga kali, dan ternyata tiga kali pula engkau muncul setelah beliau menyampaikan sabdanya tersebut, maka aku ingin tinggal bersamamu untuk mengetahui apa yang telah engkau lakukan, dan ternyata aku tidak menemukan apa-apa, sebenarnya amal perbuatan apakah yang telah mengantarkanmu ke derajat yang agung ini?' Orang itu menjawab, 'Tidak ada yang aku rahasiakan, sebagaimana yang engkau lihat—itulah yang aku lakukan.'"
Abdullah bin Amr segera beranjak untuk pergi, tibatiba orang tersebut memanggilnya, seraya berkata, "Yang aku lakukan adalah apa yang telah engkau lihat, hanya saja aku tidak pernah iri terhadap nikmat yang telah diterima oleh seorang muslim pun."
Abdullah berkata, "Itulah yang telah mengangkat derajatmu, dan itulah yang berat untuk dilakukan."
Iri dan dengki adalah dua penyakit yang sangat berbahaya, ia memusnahkan kebaikan, menghancurkan amal saleh, karena kedua penyakit tersebut menimbulkan sebuah dosa yang sangat buruk, menjerumuskan orang ke dalam ghibah, mengadu domba, berbohong dan menipu.
Iri dan dengki akan membakar kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar, lalu akan menjerumuskan seseorang ke dalam kezhaliman, dan semua itu adalah kesalahan besar.
Seseorang yang di dalam hatinya tumbuh penyakit iri dan dengki, tidak akan merasakan ketenangan dan kenyamanan, pertentangan selalu berkecamuk di dalam batinnya, bagaimana ia bisa mendapatkan nikmat yang diterima oleh orang lain? Dari mana ia mendapatkan semua harta kekayaan itu? Dan masih banyak pertanyaan lain, sehingga ia menghabiskan waktunya hanya untuk mengintai kegiatan orang lain, maka hilanglah kesempatannya untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Saudaraku yang budiman,
Jika kita telah mengenal dan memahami suatu penyakit, pasti kita akan dapatkan obat yang cocok untuknya, dan obat yang paling manjur untuk menghadapi penyakit ini ialah selalu menjaga shalat berjamaah dengan penuh khusyu' dan sikap tunduk kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman,
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ"Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut: 45)
Kekejian apakah yang lebih buruk dan dari pada iri dan dengki?
Allah Ta'ala berfirman,
... أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Hati seseorang yang tertimpa penyakit ini dan dengi akan kehilangan ketenangan, dan satu-satunya obat adalah taat kepada Allah Ta'ala dan selalu berdzikir kepada-Nya. Shalat adalah dzikir yang paling utama, selanjutnya membaca Al-Qur'an, membaca tasbih, tahlil, membiasakan dzikir pagi dan sore hari, memperbanyak istighfar dan taubat, berdoa dan mujahadah.
Perlu diketahui bahwa proses pengobatan ini kadang membutuhkan waktu yang panjang, maka janganlah engkau ragu dan putus asa, yang penting mulailah proses pengobatan yang benar ini, lalu gantungkanlah semua harapan dan tujuan hanya kepada Allah Ta'ala dengan penuh keikhlasan dan kekhusyu'an agar Dia menyembuhkanmu dari penyakit ini, berdoalah kepada-Nya dengan penuh khusyu' dan tunduk, perbanyaklah membaca firman Allah Ta'ala,
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hasyr: 10)
Cara pengobatan ini telah dicoba oleh banyak orang yang tertimpa penyakit ini dan hasilnya sebagian dari mereka merasakan adanya perubahan yang nyata, sedangkan yang lainnya 'alhamdulillah' terbebas sama sekali dari penyakit ini.
Saudaraku yang budiman,
Jika anda ingin menjadi salah seorang penghuni surga, maka bersihkanlah dirimu dari penyakit yang sangat berbahaya ini, karena penyakit ini akan menjerumuskan anda ke dalam jurang kehancuran. Oleh karena itu perbanyaklah berdoa kepada Allah Ta'ala agar menyembuhkanmu dari penyakit ini, terlebih saat kamu melakukan shalat malam, dengan izin-Nya insya Allah anda akan sembuh.
Saudaraku,
Jika badan yang bebas dari segala macam penyakit menjadikan hidup seseorang nyaman tanpa beban, maka hati yang terbebas dari segala macam penyakit akan menjadikan hidupnya penuh dengan kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kehidupan yang penuh kebaikan tidak akan dicapai kecuali dengan meninggalkan penyakit ini.
Comments
Post a Comment