Sekitar jam lima pagi, salah seorang pegawai rumah sakit menghubungiku, “Salah seorang pasien anda yang akan menjalani operasi pada hari ini telah melarikan diri.”
Saya katakan kepadanya, “Insya Allah ia akan baik-baik saja, saya selalu mendoakannya.”
Dua minggu kemudian, ada seorang pemuda berumur kurang dari duapuluh tahun mencariku di luar ruang operasi, saya segera menemuinya, ternyata ia adalah pemuda yang melarikan diri dari operasi saat itu.
Saya bertanya, “Kamukah yang melarikan diri dari operasi dua minggu yang lalu?” Ia menjawab, “Ya.”
Saya bertanya, “Kenapa anda melarikan diri?” Ia menjawab, “Saya takut mati.”
Saya bertanya lagi, “Kenapa anda takut mati?” Ia menjawab, “Karena saya belum siap.”
Saya bertanya, “Kenapa anda belum siap?” Ia menjawab, “Dorongan hawa nafsu dan setan.”
Saya bertanya, “Kapan anda siap? Atau kapan anda bisa mengendalikan hawa nafsu dan setan tersebut?” Ia menjawab, “Saya tidak tahu, akan tetapi saya selalu berdoa kepada Allah agar memberikan petunjuk.”
Saya berkata, “Apakah anda yakin akan keluar dari kegelapan ini? Atau anda yakin besok anda masih menghirup udara segar—hidup?” Dengan terisak ia menjawab, “Tentu saja tidak.”
Saya berkata kepadanya, “Dengarkanlah! Saya akan menceritakan satu kejadian kepadamu, semoga kamu dapat mengambil hikmah darinya.
Pada hari Selasa sekitar waktu Ashar, saya mendatangi salah seorang teman untuk memberikan nasehat kepadanya agar selalu menjaga shalat. Setelah terjadi perdebatan yang panjang, akhirnya ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Muhammad, jika kedatanganmu hanya untuk memperdebatkan masalah ini, saya minta kamu membicarakan hal yang lain saja.”
Saya katakan kepadanya, “Wahai Abu Fulan, takutlah kepada Allah! Kamu tidak tahu kapan kamu mati! Tidak tahu di mana kamu akan mati! Bisa jadi kamu mati besok, sekarang, atau mungkin beberapa jam lagi.”
Ia menjawab dengan congkak, “Aku masih muda, aku baru berumur empat puluh tahun, ayahku meninggal pada usia sembilan puluh tahun, sedangkan kakekku meninggal pada usia seratus tahun, saya masih segar bugar dan sehat, jika aku sudah berusia enam puluh tahun aku akan mendirikan shalat.”
Saya katakan, "Takutlah kepada Allah! Kemarin Anda mendatangnya, kapan saja," ia menjawab dengan ringkas seperti jawabannya tadi, akhirnya saya meninggalkannya dengan perasaan sedih.
Pada hari Rabu tepat jam sepuluh malam, salah seorang teman memberi kabar kepadaku, "Abu Fulan—orang yang berdebat denganmu kemarin—telah meninggal pada jam tiga waktu Ashar, dalam satu kecelakaan lalulintas di satu jalan di wilayah Dammam, dan kami akan menyalatnya besok hari kamis waktu Dhuhur."
Berita tersebut sampai ke telingaku bagaikan petir yang menyambar. Saya sangat menyayangkan keadaannya, tetapi masih hangat di dalam benakku apa yang ia bicarakan, apa yang ia perdebatkan karena keangkuhannya. Saat itu ia hanya mengharapkan hidup duapuluh tahun lagi untuk mendirikan shalat, akan tetapi ia hanya diberi kesempatan duapuluh empat jam saja, sekarang apa yang akan anda katakan?"
Saudaraku... sekarang akan saya ceritakan kisah yang lain.
Dhiya' adalah seorang pegawai yang bertugas memandikan jenazah di Rumah Sakit Angkatan Bersenjata mengisahkan kepadaku bahwa seorang komandan pleton Angkatan Udara menemuinya untuk memandikan salah satu rekannya yang telah meninggal.
Dhiya' berkata, "Maka saya dan komandan tersebut memandikan rekannya bersama-sama, lalu pada pukul setengah dua belas siang kami berpisah, ia membawa jenazah tersebut ke masjid untuk dishalatkan kemudian ia akan membawanya ke pemakaman, sedangkan saya pulang bersiap-siap untuk menunaikan shalat Dhuhur. Pada pukul satu siang rumah sakit menghubungiku bahwa di sana ada satu jenazah ingin menyalatkannya pada waktu Ashar, maka saya segera berangkat ke rumah sakit. Setibanya di sana saya membuka penutup jenazah tersebut, betapa terkejutnya saya, ternyata jenazah itu adalah komandan pleton yang baru dua jam lalu berpisah dengan saya, dialah yang ikut serta memandikan rekannya yang meninggal lebih dahulu, kemudian membawanya untuk dishalatkan.
Saya sempat kaget dan shock, sehingga tidak bisa menguasai diri. Saya segera pergi ke ruang kantor saya untuk duduk sebentar dan berdzikir kepada Allah Ta'ala, kemudian dengan bertawakal kepada Allah saya memandikannya.
Setelah memandikannya saya bertanya kepada kerabatnya, "Apa yang terjadi kepada orang ini?" Mereka menceritakan, "Ia turun ke dalam makam untuk meletakkan jenazah rekannya, dan saat ingin naik ia merasakan sakit di dadanya, lalu ia meninggal di dalam makam tersebut."
Maha suci Allah, sungguh benar! Cukuplah kematian sebagai peringatan. Semoga Allah Ta'ala merahmati Ali bin Abi Thalib yang sangat khawatir terhadap dua hal, panjang angan-angan dan memperturutkan hawa nafsu.
Saudaraku sekalian, sungguh kisah-kisah kehidupan, kejadian-kejadian nyata yang begitu dekat ini menuntut kita untuk mengintrospeksi diri dan merenungkan keadaan kita,
tahukah kita bagaimana sikap kita yang selalu berada dalam bayang-bayang kematian?
Sungguh merupakan hal yang sangat mengherankan, banyak sekali orang yang memasuki wilayah pemakaman namun sikap mereka sebagaimana mereka memasuki pasar. Saya pernah melihat dua orang bercanda ria saat mereka sedang mengiringkan jenazah menuju pemakaman, bahkan saya juga pernah melihat orang lain yang menyalakan rokoknya saat ia belum melangkah keluar dari komplek pemakaman.
Sungguh keadaan ini sangat menyedihkan, kita telah merasa aman dari ujian Allah, bila kita melupakan kematian, kita membuang bayang-bayang kematian jauh-jauh, seakan-akan kita akan hidup selamanya.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, "Jika kita merenungkan isi sisi kehidupan para sahabat Rasulullah, kita akan dapati mereka sangat giat beramal dengan diiringi rasa takut kepada Allah, sedangkan amal ibadah kita sangat kurang, bahkan kita telah bersikap meremehkan dan merasa aman dari ujian Allah. Ya Allah, ampunilah kami."
Jika gambaran Ibnul Qayyim tentang dirinya dan masyarakat pada jaman beliau dibandingkan dengan keadaan para sahabat seperti itu, lalu bagaimana keberadaan kita jika dibandingkan mereka? Ya Tuhan, ampunilah kami.
Saudaraku...
Kita harus menjadikan kematian sebagai pengingat yang selalu melekat dalam pikiran dan benak kita, sehingga ketika melihat jubah atau baju berwarna putih kita akan segera mengingat kain kafan, liang lahat, pertanyaan Mungkar dan Nakir dan seterusnya. Apakah kita sudah siap menghadapinya?
38 Menyadari
Halaman Kanan
Adakah di antara kita jika melihat api di tungku ataupun di tempat yang lain segera bertanya kepada diri sendiri, "Apakah aku telah melakukan satu perbuatan yang mendekatkan diriku kepada-Nya?" Lalu ia mengingat ingat semua perbuatan dan dosa-dosanya seraya bertaubat dan berjanji kepada Allah untuk tidak akan mengulanginya?
Saudaraku...
Janganlah anda seperti pemuda yang melarikan diri dari operasi karena ia belum siap untuk mati, lalu ia takut akan kelanjutan nasibnya, padahal ia sangat mengenal musuhnya, akan tetapi ia menyerah kalah walaupun ia sangat memahami bahwa musuhnya pasti akan menyeretnya ke dalam neraka.
Hendaklah kita bersikap seperti tentara yang berada di medan pertempuran, selalu siap sedia menghadapi musuh—hawa nafsu dan setan—tak sedetikpun lengah mengawasinya, dan menyiapkan semua senjata untuk memeranginya. Hal ini menuntut kita selalu dalam keadaan sehat dan fit dengan berbagai gizi dan jamuan yang mujarab.
Gizi yang paling bermutu ialah gizi iman, dan sebaik-baik jamu-jamuan adalah segala tuntunan dan hukum yang telah Allah Ta'ala sebutkan di dalam Al-Qur'an,
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabbi) Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." (QS. Al-Zukhruf: 36)
Saudaraku yang tercinta...
Hendaklah engkau memerangi ketiga musuh tersebut dengan bersenitakan iman, shalat dan Al-Qur'an.
Jika engkau tidak mengetahui kapan dan dimana akan mati, maka kenapa engkau tidak mengintrospeksi diri secara terus menerus? Selalu berusaha membenahi kekurangan-kekurangan, bertaubat dengan segera setelah melakukan kesalahan. Karena bisa jadi engkau akan dipanggil meng-hadap kepada Allah Ta'ala saat sedang bertaubat dan menyesali kesalahan, lalu engkau menghadap kepada-Nya seakan-akan tidak pernah berbuat dosa maupun kesalahan, bahkan semua dosa dan kesalahan akan menjadi kebaikan.
Berikut ini saya sampaikan tip-tip mudah untuk ber-muhasabah (introspeksi diri):
- Setelah meletakkan kepala di atas bantal lalu membaca doa-doa sebelum tidur segeralah mengingat segala hal yang telah engkau lakukan uang itu, meliputi amal dan aktifitas yang baik maupun yang buruk.
- Mulailah dengan hal-hal yang berkaitan syahadat, shalat, zakat, sedekah, lalu hal-hal yang berkaitan dengan rukun iman, iman kepada takdir baik maupun yang buruk, dan seterusnya, jika semua hal yang engkau ingat ternyata tidak bermasalah, maka ucapkanlah alhamdu-lillah, akan tetapi jika engkau dapati hal-hal yang buruk maka bacalah ta'awudz—minta perlindungan kepada Allah Ta'ala dari gangguan setan—beristighfarlah kepada Allah, bertaubatlah kepada-Nya dan menangislah di hadapan-Nya. Semoga Allah Ta'ala berkenan menerima taubatmu, lalu berniatlah untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut, jika ada satu sarana yang mendekatkanmu kepada dosa maka berjanjilah kepada Allah untuk tidak mendatanginya lagi pada hari-hari yang akan datang, lalu tidurlah engkau dalam keadaan telah bertaubat.
- Setelah mengingat-ingat hal-hal yang berkenaan dengan hak Allah, lanjutkan mengingat-ingat hal-hal yang berkenaan dengan hak-hak makhluk, yakni meliputi orang tuamu, istrimu, anak-anakmu, saudara-saudara mu, tetangga-tetanggamu, kerabat-kerabatmu, teman-temanmu, kawan-kawanmu dan seterusnya, apakah amal dan aktifitasmu hari ini telah menyebabkan Allah murka berkenaan dengan hak-hak mereka? Jika ternyata engkau belum bisa menunaikan hak-hak mereka dengan baik maka bertaubatlah kepada Allah dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya, lalu mintalah kerelaan mereka.
Mungkin anda akan bertanya, apa gunanya muhasabah singkat ini? Sesungguhnya manfaat dari muhasabah ini adalah jika Allah Ta'ala takdirkan engkau meninggal malam itu, maka engkau akan menghadap kehadirat-Nya dalam keadaan telah bertaubat. Akan tetapi jika Allah takdirkan engkau bisa menghirup udara segar pada hari esoknya, maka engkau akan mendapatkan salah satu dari dua manfaat:
Mungkin engkau akan ingat bahwa engkau telah berjanji kepada Allah Ta'ala dan engkau telah bermuhasabah, maka engkau akan selalu berusaha menghindari kesalahan sebelum terjerumus ke dalamnya.
Atau mungkin engkau terjerumus kembali dalam kesalahan kemudian engkau bertaubat kembali, jadi setiap engkau melakukan kesalahan di siang hari engkau akan bertaubat pada malam harinya, karena Allah mengampuni dosa orang-orang yang berbuat salah. Demikian selanjutnya hingga akhirnya engkau akan merasa malu terhadap Allah setelah berkali-kali bertaubat. Sungguh taubat dan penyesalanmu merupakan ibadah yang akan mendatangkan pahala kepadamu.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ:
«والذي نفسي بيده لو لم تذنبوا لذهب الله بكم، ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفر لهم»
“Demi Allah, jika kalian tidak melakukan dosa pasti Allah Ta’ala akan mengganti kalian dengan kaum lain yang berbuat dosa, lalu mereka bertobat kepada Allah kemudian Allah mengampuni mereka.”
Saudaraku, cara ini telah teruji, banyak orang yang bisa meninggalkan kebiasaan buruknya melalui cara ini, karena itu cobalah! Karena cara ini tidak mengalami kesulitan sedikit pun dan waktu yang diperlukan hanya cukup satu menit saja. Hubungi dirimu pada permasalahan sebelum engkau … [bagian ini kurang jelas pada gambar]
Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Seorang mukmin adalah pengelola untuk dirinya sendiri, ia mengatur dan menghisab dirinya sendiri karena mengharap keridhaan Allah Ta’ala.”
Imam Malik bin Dinar berkata, “Semoga Allah Ta’ala merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya sendiri, ‘Bukankah kamu telah melakukan ini dan itu?’”
Comments
Post a Comment